Di setiap rumah, suasananya sederhana. Tidak ada jarak antara imam dan umat Romo Kim menyapa, membuka ruang percakapan, mendengarkan keadaan keluarga, kemudian mengajak mereka berdoa dan memberikan berkat.
Bagi keluarga-keluarga umat, kehadiran seorang pastor di depan pintu rumah bukan sekadar kunjungan biasa. Ada rasa diperhatikan, dikuatkan dan diteguhkan bahwa perjalanan iman mereka tidak dijalani sendirian.
Pelayanan seperti ini juga menunjukkan bahwa Gereja tidak hanya hidup ketika umat berkumpul dalam perayaan Ekaristi. Gereja hadir ketika imam bersedia masuk ke dalam kehidupan umat, mendengar kegelisahan mereka, merasakan keadaan keluarga dan membawa doa ke tengah rumah-rumah umat.
Dalam kunjungan tersebut, Romo Kim didampingi Ketua KUB Johnni Manehat, Stef Toasu selaku tokoh umat serta sebagian besar umat. Kebersamaan itu menjadi bagian dari wajah Gereja yang hidup melalui relasi antara imam dan umat.
Bagi umat Stasi Santo Agustinus Bello, langkah Romo Kim mungkin terlihat sederhana. Namun dari jalan setapak itulah lahir pesan yang jauh lebih besar: seorang imam hadir bukan hanya ketika umat datang mencari Gereja, tetapi juga ketika Gereja datang mencari, menyapa, mendengarkan dan menguatkan umatnya.
Dan pada Hari Raya Penemuan Salib Suci, langkah itu menjadi kesaksian kecil tentang iman yang tidak berhenti pada kata-kata. Dari rumah ke rumah, di tengah jalan yang sulit dilalui, Romo Kim membawa sesuatu yang tidak selalu terlihat tetapi dirasakan umat: doa, berkat, pengharapan dan keyakinan bahwa Gereja berjalan bersama mereka
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











