ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Bukan Sulap! 15 Peserta Tantang Beling hingga Sendok Bengkok, Mental Block Dibongkar di Jakarta

Avatar photo
Reporter : Dicky TaunaisEditor: ANTONIUS TAOLIN
  • Bagikan
beli
15 Peserta Berjalan di Atas Beling, Ketakutan Dibongkar dalam Workshop ( Ist )

Puncaknya terjadi saat peserta dihadapkan pada tantangan Walk on Glass. Sebelum berjalan, Mbah Dragon menjelaskan prinsip fisika yang berkaitan dengan tekanan dan kelembaman.

Dokter Andri menjadi peserta pertama yang mencoba. Setelah berhasil melewati beling tanpa terluka, peserta lainnya mulai mendapatkan keberanian. Hendro yang merupakan peserta tertua kemudian ikut mencoba.

Intan sempat mempertanyakan risiko jika kakinya terluka. Dua peserta lainnya juga sempat memilih tidak ikut. Namun setelah melihat peserta lain berhasil, keraguan perlahan berubah menjadi keberanian.

Satu per satu peserta akhirnya melangkah melewati pecahan beling.

Baca Juga :  Kapolda NTT Kunjungi Anak-anak Pengungsi Lewotobi, Beri Bingkisan dan Dukungan Trauma Healing

Bagi Mbah Dragon, tantangan tersebut bukan tentang membuktikan seseorang kebal terhadap beling. Sesi itu digunakan sebagai pengalaman langsung untuk menghadapkan peserta pada rasa takut dan batasan yang mereka bangun sendiri.

“Mental block” menjadi sesuatu yang tidak hanya dibicarakan, tetapi dialami langsung oleh peserta.

Workshop juga diisi permainan asah otak dan latihan metakognisi. Peserta diminta menemukan jawaban dengan kemampuan sendiri tanpa menyontek peserta lain.

Ada peserta yang mampu menyelesaikan permainan sekitar 12 menit, sementara peserta lainnya membutuhkan waktu lebih lama. Sebagian bahkan belum menyelesaikannya hingga kegiatan berakhir dan menjadikannya pekerjaan rumah.

Baca Juga :  Kapolda dan Ketua Bhayangkari Daerah NTT Serahkan Bantuan Sumur Bor untuk Warga Perbatasan TTU

Respons peserta pun beragam. Hendro mempertanyakan kapan kegiatan serupa kembali digelar karena menilai materi yang diberikan berkaitan dengan kondisi pengusaha menghadapi perubahan dan tekanan bisnis.

Dokter Andri menilai materi PDCA dan Fishbone menjadi lebih menarik ketika dipadukan dengan pola berpikir kreatif. Sementara Ardi dari kalangan Gen Z menyebut perpaduan pengalaman nyata, permainan, studi kasus dan teori membuat konsep berpikir “out of the box” lebih mudah dipahami.

Baca Juga :  Gandeng PT TASPEN dan Gekraf, Pemkot Kupang Fasilitasi Penyaluran Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Flores

Menjelang penutupan pukul 19.00 WIB, peserta mendapatkan sejumlah bonus trik sulap yang dapat dibawa pulang. Namun pengalaman yang paling membekas justru bukan benda yang dibawa pulang, melainkan keberanian untuk melangkah melewati beling.

Workshop kemudian ditutup dengan filosofi yang menjadi benang merah kegiatan tersebut: Inovasi, Usaha dan Doa—sebuah pesan agar peserta terus mencari kemungkinan baru, bekerja keras dan tetap membawa nilai kemanusiaan dalam setiap langkah.

  • Bagikan