Jika produksi garam rakyat dan garam industri terus ditingkatkan, NTT memiliki peluang semakin besar untuk mengambil bagian dalam memenuhi kebutuhan garam nasional.
Stefania menjelaskan, peluang tersebut semakin terbuka karena kebutuhan garam nasional saat ini mencapai sekitar lima juta ton. Namun, sekitar 2,6 juta ton kebutuhan tersebut masih harus dipenuhi melalui impor.
Kondisi itu menunjukkan masih terbukanya ruang yang sangat besar bagi daerah penghasil garam, termasuk NTT, untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas pasar.
Salah satu kawasan yang diproyeksikan menjadi sentra pengembangan garam adalah Kabupaten Rote Ndao. Daerah tersebut memiliki potensi lahan tambak garam yang diperkirakan mencapai 10.000 hingga 13.000 hektare.
“Kabupaten Rote Ndao menjadi salah satu kawasan yang diproyeksikan sebagai sentra pengembangan, dengan potensi lahan tambak garam mencapai 10.000 hingga 13.000 hektare,” ujar Stefania.
NTT sendiri memiliki 14 kabupaten penghasil garam. Dengan optimalisasi lahan, penerapan teknologi, peningkatan produktivitas serta penguatan akses pasar, NTT berpeluang memperbesar kontribusinya terhadap pasokan garam dalam negeri dan ikut menopang target swasembada garam nasional pada 2027
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











